Jumat, 07 Februari 2014

Selayang Pandang Ya Saman

Nyelek gelumbang perahu bidar di sungi musi
janganla lupo meli telok abang
cantek rupo penyabar dan baek ati
adek manis brambot panjang di koncet kepang
lika liku banyu batang hari sembilan
mengaler bermuaro ke sungi musi jugo
elok la ku ngai si rupo cindo menawan
muat kakak siang tekenang malem tejago
pulau kemaro mela sungi musi ke sungsang
nak ke pusri laju tesasar ke kalidoni
badan saro pekeran resah ati teguncang
ngarep ke adek kalu be galak jadi bini

ay ya ya ya , ya saman
pecaknyo mudah tapi saro nian
ay ya ya ya , ya saman
nyari bini yang bener bener setolok'an
ay ya ya ya , ya saman
pecaknyo mudah tapi saro nian
ay ya ya ya , ya saman 
nyari bini yang bener bener setolok'an
ay ya ya ya , ya saman
ya saman ya saman yaa saman

Siapa yang tidak kenal dengan lirik lagu diatas. Lagu dengan lirik berbahasa Palembang ini begitu kental ditelinga orang Palembang. Acara pernikahan, syukuran, lagu ini kerap dinyanyikan oleh masyarakat. Bahkan lagu ini sempat dinyanyikan oleh Band Armada saat Penutupan Sea Games ke-26 di Kota Palembang. Sedikit disayangkan, Band ini menyanyikan lagu tersebut di Penutupan Sea Games tanpa izin dari pencipta lagu tersebut. Yah tapi waktu telah berlalu. 

Berawal dari pertemuan malam itu, selepas latihan bersama antara Semakbelukar dan Kamsul A.Harla. Aku menyempatkan untuk wawancara santai bersama beliau mengenai lagu Ya Saman yang begitu terkenal di Palembang. Berikut rangkuman obrolan mengenai asal muasal lagu Ya Saman.

Di Palembang, kata Ya Saman itu sendiri diucapkan untuk hal-hal yang menakjubkan. Misalnya untuk hal yang positif, “Ya saman, alangkah cantiknya cewek itu”. Atau hal yang negatif, “ Ya Saman, nakal nian budak ini”. Jadi tergantung intonasi pengucapan juga. Ucapan Ya Saman memiliki akar sejarah Islam di Palembang. Ucapan ini sering diucapkan oleh para pengikut Tarekat Samaniyah yang ada di Palembang dan hingga sekarang Tarekat itu masih ada di Palembang. Dinamai Samaniyah, merujuk pada pendirinya Syekh M.Saman, Ulama Madinah. Salah satu murid Tarekat ini, Syekh Abdul Samad membawa ajaran ini ke Palembang pada masa Kesultanan Mahmud Bahdarudin II. Kata ini sering diucapkan untuk sesuatu yang luarbiasa. Karena Tarekat ini berkembang di Palembang pada masa itu, kemudian diikutilah pengucapan kata “Ya Saman” oleh masyarakat setempat yang bukan pengikut Tarekat. Hingga akhirnya menjadi istilah umum yang digunakan masyarakat Palembang terutama tahun 1990 kebawah. Karena mempunyai akar sejarah yang bagus, maka Kamsul A.Harla mengabadikannya dalam syair lagu. Sedikit disesalkan oleh beliau, lagu ini agak slengek’an dan tercipta tanpa tahu akar sejarah yang menyangkut ulama pembawa ajaran ini. Mungkin saja kalau tahu akar sejarah sebelumnya lagu ini tidak akan seperti sekarang. 
Foto diambil dari Facebook 
Kamsul A.Harla, merupakan seorang seniman asli asal Kota Palembang, yang sempat hijrah ke Kota Jakarta pada tahun 1989 hingga tahun 2005. Sebagai seorang seniman, seluruh cabang seni pernah ditekuninya, menjadi aktor teater, pembantu sutradara, hingga pernah menjadi sutradara. Sementara bakat musik saat itu masih seadanya. Dan dari dulu beliau memang sering menciptakan lagu. Kalau dikumpulkan ada sekitar 60 -70 lagu. Awal mula lagu Ya Saman ini tercipta yaitu,  setelah lama di Kota Jakarta, pada tahun 2005 beliau berencana pulang ke Palembang bermaksud silaturahmi kembali dengan keluarga dan teman-teman seniman Palembang. Di Palembang bertemu jodoh dan bertemu kembali dengan teman-teman seniman Palembang dari tahun 1981. Dan akhirnya juga diajak teman-teman seniman Palembang terlibat dalam Kepengurusan Dewan Kesenian Palembang dan dipercaya menjadi Ketua Komite Film, dikarenakan dulu pernah memproduksi sebuah film di Jakarta. Di tahun yang sama, 2005, Beliau berkesempatan menyutradai sebuah seni pertunjukan teater,musik di Palembang. Disitulah lagu Ya Saman tercipta. Karena sudah jarang sekali anak muda Palembang terdengar pengucapan Ya Saman. Akhirnya lagu ini dimasukkan dalam pergelaran tersebut yang ditampilkan dalam Acara Festival Sriwijaya. Beberapa bulan kemudian, lagu ini akhirnya direkam dan didanai oleh Bank Sumsel untuk masuk dalam kompilasi lagu-lagu Palembang. Dalam kompilasi ini, lagu Ya Saman menjadi lagu paling bawah dalam list kompilasi. Serta dikarenakan kiprah beliau (Kamsul A.Harla) di Palembang telah lama hilang, produser menginginkan Zoel yang menjadi penyanyi dalam Lagu Ya Saman ini. Awalnya lagu ini dianggap sepele, tapi beliau optimis yakin lagu ini yang bakal menjadi hits. Dan benar saja, dalam kompilasi tersebut, lagu Ya Saman lah yang menjadi hits hingga akhirnya setahun kemudian lagu tersebut dimasukkan kembali dalam kompilasi lagu untuk Souvenir Visit Musi 2008. Di produksi ulang dan disempurnakan lagi dengan arransemen yang lebih bagus. Dan tetap lagu ini dianggap lagu yang tidak hits dalam album ini. Tapi tetap saja akhirnya lagu ini meledak dan yang menjadi hits. Dua album kompilasi yang dibuat memang bukan untuk dikomersilkan tapi hanya untuk jadi souvenir dan dicetak oleh Pemda sebanyak 10.000 CD dan lagu Ya Saman di dua album inilah yang banyak beredar dimasyarakat sekarang. Adapun sekarang versi yang terbaru merupakan pengembangan dengan Irama Salsa dan termasuk dalam mini album Souvenir Bank Sumsel bersama lagu Sunrise on Musi River. Dan sudah ada klip sederhananya di media Youtube. Untuk versi pertama lagu Ya Saman itu sendiri, tidak sempat terekam dan data lagunya telah hilang. 

Lagu Ya Saman : Klik disini!


Facebook : Kamsul Arifuddin Harla



( Sumber : wawancara santai yang direkam melalui media mobile smartphone)